SUMENEP, rajafakta.com
Sejumlah seniman teater di Kabupaten Sumenep mengeluh karena tidak ada ruang atau sarana yang diberikan pemerintah daerah untuk mengekspresikan diri.
Salah seorang seniman teater yang mengungkapkan keluhannya adalah Firman, ia adalah anggota komunitas Forum Aktor Sumenep (FAS). Menurut dia, komunitas teater sangat banyak tapi tidak sedikit yang mati suri. Karena pemerintah dianggap sangat kurang memberikan perhatian.
“Saya tidak tahu kenapa, apakah pemerintah daerah menganggap teater tidak penting-penting amat. Tapi yang jelas sampai sekarang saya tidak melihat keseriusan pemerintah dalam memberdayakan kesenian khususnya teater,” ungkap dia kepada Memorandum.
Menurutnya, peran pemerintah daerah terhadap keberlangsungan teater hanya sebatas kepentingan event. Tapi yang benar-benar membangun kesenian teater secara serius semacam melakukan pengembangan pemikiran tentang dunia teater atau memberikan ruang khusus pengembangan teater, misalnya diskusi ilmiah terkait pengembangan estetika keteateran dan sebagainya, ia melihat tidak ada.
“Kalaupun ada, kesannya hanya seremonial saja tapi tidak menyentuh substansi pengembangan teater secara khusus,” imbuhnya.
Karena minim perhatian, menurut Firman, banyak seniman teater asal Sumenep yang mengembangkan eksistensinya di luar daerah seperti di Surabaya, Jogjakarta atau kota lain. Padahal mereka dinilai memiliki potensi besar untuk menaikkan nama Sumenep lewat teater.
“Andai pemerintah memiliki program khusus, itu bagus. Dinas terkait bisa mengumpulkan seniman teater untuk merumuskan bersama persoalan-persoalan tapi harus serius dan ada tindak lanjutnya agar teater bisa berdaya dan memberikan kontribusi untuk Sumenep,” urainya.
Firman mengaku, seni teater tidak bisa hanya dilihat sebatas pementasan, seremonial, dan sebagainya. Tapi dengan teater bisa menjadikan wadah untuk mengekspresikan diri. Serta menjadi salah satu tanda kedewasaan berpikir dan kemajuan kebudayaan Sumenep.
“Saya pribadi kecewa dengan perhatian pemerintah. Selama ini yang serius hanya wacananya, sedangkan faktanya tidak seserius apa yang dibicarakan. Pementasan teater tidak bisa diukur hanya dengan insentif yang tidak seberapa, karena proses teater sangat panjang dan melelahkan,” keluh dia.
Firman secara khusus meminta kepada pemerintah daerah agar ada pergerakan yang konkrit dalam upaya memberdayakan teater. Tidak hanya untuk kebutuhan event, program kerja atau menghabiskan anggaran.
Hal yang sama diungkapkan Syem Jesus, alumnus Sanggar Lentera. Ia mengaku selama ini banyak seniman teater yang rela mengamen untuk mendapatkan dana ketika akan mengadakan kegiatan pementasan.
Menurutnya, banyak sekali komunitas teater yang mandiri khususnya komunitas di kampus-kampus, pesantren, dan sebagian sekolah. Mereka melakukan apa saja untuk mempertahankan eksistensinya.
“Bahkan kami dulu ketika mau pementasan di Gedung Cak Durasim Surabaya atau ke Jakarta itu patungan dana, kadang mengamen. Sementara di Sumenep tempat untuk pementasan teater saja kurang memadai,” curhatnya.
Menanggapi hal itu, Ketua Komisi IV DPRD Sumenep Akis Jazuli berjanji akan memperjuangkan nasib para seniman teater dengan berbagai kebijakan sesuai tupoksinya di legislatif.
“Tugas kami kan penganggaran sekaligus pengawasan. Nanti akan kami panggil OPD terkait untuk diskusi tentang program kesenian khususnya teater yang menjadi keluhan seniman. Kalau sudah ada programnya baru kami bahas anggaran,” terang Akis.
Politikus Partai NasDem itu mendorong OPD terkait untuk memperhatikan nasib para seniman teater. Sehingga ia meminta Disbudporapar Sumenep untuk mengumpulkan seniman teater guna berdiskusi terkait program apa yang perlu dikerjakan.
“Pemerintah perlu mendorong dan memberikan perhatian khusus untuk keberlangsungan kesenian utamanya teater,” tandas Akis. (anw/rf)












